Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Juni 2012

Ijasah Sarjana Pendidikan Luar Sekolah dikeluhkan di Cianjur


Beberapa Sarjana PLS di Cianjur Mengeluh Beberapa Sarjana (S-1) Pendidikan Luar Sekolah (PLS)  di Cianjur mengeluh. Pasalnya, ijazah yang dikantonginya itu tak bisa dipakai untuk diajukan kenaikan pangkat melalui penyesuaian ijazah (PI). Padahal, mereka telah menjalankan tugasnya sebagi pendidikan dan telah berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Anehnya, beberapa waktu yang lalu ada beberapa sarjana PLS yang telah mengajukan PI dan diterima. Tapi hal tersebut sekarang ini seakan dinyatakan tak berlaku lagi. Karena, meski telah beberapa kali mengajukan PI, berkas pengajuan tersebut selalu dikembalikan. Alasannya pun tak jelas. Hanya mengatakan, bagi guru yang mememiliki ijazah Sarjana PLS tidak bisa mengajukan PI.

Rabu, 13 Juni 2012

Pendidikan Nonformal Modal Utama Berwirausaha

Dalam berwirausaha, modal utama bukanlah uang, namun pendididkan nonformal. Pendidikan nonformal diperoleh dari kemampuan seseorang dalam bersosialisasi dengan lingkungan.Hal itu ditandaskan Dr Elih Sedia Permana dari Ditjen Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (PAUDNI) Kemendikbud, dalam seminar nasional “Strategi Kewirausahaan  Masyarakat untuk Meningkatkan Kehidupan Sosial Ekonomi Melalui Pendidikan Non-Formal” yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu PendidikaN (FIP) Unnes, Kamis (7/6).
“Berwirausaha bisa dimulai dengan bergaul dengan para pengusaha. Misalnya saja bergaul dengan penjual gorengan, maka anda mendapatkan banyak informasi dan bisa memulai berwirausaha dengan menjadi pengusaha gorengan karena Anda berpikir bahwa usaha itu memiliki pasar dan ada peluang,”katanya dihadapan ratusan peserta seminar di ruang serbaguna FIP.
Rektor Unnes Prof Sudijono Sastroatmodjo menuturkan, wirausahawan yang baik adalah orang yang mampu mengatur dan mengelola hubungan  yang baik dengan orang lain. “Wirausahawan yang baik itu seharusnya memiliki kepekaan dalam rasa dan memiliki kemampuan sosial yang baik. Kepekaan itu merupakan potensi yang akan menuntun seseorang untuk menemukan dan memanfaatkan peluang usaha yang ada disekitarnya,” katanya.
Ketua Panitia Seminar Daman mengatakan, seminar ini diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian akademisi Unnes terhadap mental mandiri masyarakat yang dianggap perlu dibenahi. “Wirausaha tidak selalu bermakna ekonomi, namun juga sosial. Wirausaha sosial adalah bagaimana mengelola kelompok sosial menjadi berdaya guna bagi perubahan. Perubahan tersebut bisa dari wawasan, pola pikir hingga perilaku yang lebih dinamis,” kata dosen Pendidikan Luar Sekolah FIP Unnes itu.


sumber : http://unnes.ac.id/berita/pendidikan-nonformal-modal-utama-berwirausaha/

Dirjen PAUDNI: Revitalisasi PKBM Perlu Dilakukan


JAKARTA, suaramerdeka.com - Keberadaan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dinilai cukup memberikan kontribusi terhadap perluasan akses wajib belajar (Wajar), melalui pendidikan nonformal (kesetaraan). Seiring tercapainya program Wajar sembilan tahun, maka peran PKBM perlu direvitalisasi.
Direktur Pembinaan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ella Yulaelawati menyatakan, revitalisasi PKBM perlu dilakukan melalui berbagai upaya peningkatan mutu, kemandirian, dan keberlangsungan. Tujuannya, agar mampu melakukan analisis kebutuhan dan potensi yang berkembang di masyarakat, serta mampu menggerakkan sumber daya yang ada.
"Karena, keberhasilan PKBM terletak pada kemampuan PKBM itu dalam memberikan dampak kolektif pada kumpulan individu dan masyarakat sekitar," Ujarnya, di Jakarta, Minggu (15/4).
Dampak yang dimaksud dapat berupa penyadaran dan komitmen pengentasan ketunaaksaraan dan pengentasan kemiskinan. "Keberhasilan PKBM juga harus ditunjukkan dari tumbuhnya komunitas-komunitas kecil yang sadar serta dapat meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga dan peningkatan kualitas kehidupan bermasyarakat," katanya.
Untuk itu, pihaknya memandang perlu revitalisasi PKBM melalui beberapa hal, di antaranya, peningkatan mutu kelembagaan termasuk manajemen dan alokasi dana untuk membuat outlet PKBM, untuk dapat memasarkan produk-produk hasil PKBM. Selain itu, diperlukan pengembangan PKBM Tematik yang menguatkan potensi lokal.
Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (PAUDNI), Lydia Freyani Hawadi mengatakan, revitalisasi PKBM sangat penting untuk dilakukan saat ini. Menurutnya, PKBM memiliki peran penting dalam perluasan akses pendidikan pada komunitas masyarakat terpencil dan marjinal. Sehingga, lanjutnya, masyarakat di kawasan tersebut tidak mengalami ketertinggalan dari daerah lainnya.
( Satrio Wicaksono / CN31 / JBSM
 
sumber: www.suaramerdeka.com

Minggu, 27 Mei 2012

Akankah Pendidikan luar Sekolah menjadi Anak Tiri Pemerintah



Tangisan Anak Tiri 300x214  Akankan Pendidikan luar Sekolah menjadi Anak Tiri Pemerintah Akankan Pendidikan luar Sekolah menjadi Anak Tiri Pemerintah Ketika mendengar kata pendidikan luar sekolah (PLS), saya langsung teringat dengan seorang teman sepermainan saya yang mengambil jurusan ini di sebuah perguruan tinggi negeri di Malang. Di kampus yang sama sementara saya mengambil jurusan sastra. Selama setahun saya tidak pernah tahu kalau teman saya ini mengambil jurusan Pendidikan Luar Sekolah, begitu juga saya tidak tahu kalau di kampus saya ada jurusan yang seperti ini.

Selasa, 01 Mei 2012

Pendidikan Seumur Hidup dan Ranah Pendidikan

Hubungan antara manusia dan pendidikan sangat erat. Setiap orang dikenai danMURID Pendidikan Seumur Hidup dan Ranah Pendidikan terpanggil untuk melaksanakan pendidikan, aanak-anak menerima pendidikan dari orangtuanya dan bilamereka telah dewasa dan berkeluarga maka mereka juga akan mendidik anak-anaknya. Pada dasarnya realisai pendidikan di Indonesia melaui beberapa jalur; pendidikan melaui jalur keluarga disebut pendidkan informal; pendidikan yang dilaksanakan oleh para pendidik melalui jalur lembaga   pendidikan dalam sekolah (PDS) disebut pedidikan formal. Sedangkan pendidikan yang dilakukan di luar jalur keluarga dan sekolah disebutkan pendidikan luar sekolah (PLS) atau pendidikan non formal.
Pendidikan Seumur Hidup dan Ranah Pendidikan
Pendidikan sebagai semua pengalam belajar yang berlangsung lam segala lingkungan (dalam keluarga/sekolah dan atau masyarakat) dan berlangsung sepanjang hidup(PSH) yang disebut life long education, Melalui pendidikan ada ranah dalam diri manusia yang akan dikembangkan pada anak didik yaitu ranah afeksi (rasa dan karsa) atau yang lazim disebut perasaan dan kemauan. Ranah cognisi yaitu cipta otak (pikiran)dan ranah psikomotor yaitu ketrampilan.
Jika dijabarkan lebih rinci tentang pendidikan mencakup banyak hal yang bertalian dengan perkembangan manusia, mulai dari perkembangan fisik, kesehatan, ketrampilan pikiran, perasaan, kemauan, sosial sampai kepada perkembangan iman, mental, spiritual maka akan didapatkan hasil secara seimbang. Pendidikan membuat manusia lebih sempurna (berkualitas) atau lebih utuh dalam meningkatkan (membangun)hidupnya dari taraf kehidupan alamiah ke taraf ke hidupan berbudaya. Ada semboyan yang terkenal : “Makin tinggi kualitas SDM makin besar jaminan bahwa pembangunan akan berhasil”. Semakin banyak pendidikan yang diperoleh seseorang, semakin berbudaya orang itu. Budaya adalah segala hasil pikiran , kemauan dan karya manusi baik secara individual maupun kelompok yang berguna bagi peningkatan kualitas hidup manusia. Semakin tinggi budaya suatu bangsa berarti semakin tinggi pendidikannya.Semakin tinggi budaya suatu bangsa berarti semakin tinggi harkat kemanusiaannya. Oleh sebab itu pendidikan diakui peranannya sebagai upaya memanusiakan manusia (humanisasi) agar perilakunya menjadi manusiawi (hominisasi).

sumber :
http://www.imadiklus.com/2010/10/pendidikan-seumur-hidup-dan-ranah-pendidikan.html

Asal Usul Pendidikan Luar Sekolah

Kegiatan pendidikan, walaupun dalam bentuknya yang paling sederhana, yang kini dikenal dengan istilah pendidikan luar sekolah, telah hadir di dunia ini sama tuan ya dengan kehadiran  manusia  yang  berinteraksi  dengan  lingkungan  di  muka  bumi  ini. Setelah  jumlah  manusia  makin    berkembang,  situasi  pendidikan  ini  muncul  dalam kehidupan  kelompok  dan  masyarakat.  Kegiatan    pendidikan  dalam  kelompok  dan masyarakat elah dilakukan oleh umat manusia jauh sebelum pendidikan sekolah lahir di dalam kehidupan masyarakat.
1.  Pengaruh Pendidikan Informal
Pada waktu permulaan kegadirannya, pendidikan luar sekolah dipengaruhi oleh pendidikan informal, yaitu kegiatan yang terutama berlangsung dalam keuarga. Di dalam kehidupan keluarga ini  terjadi interaksi antar orang tua, antara orang tua dengan anak, dan antara anak dengan anak. Pola-pola transmisi pengetahuan, keterampilan, sikap, nilai dan kebiasaan yang dilakukan oleh orang tua terhadap  anaknya pada dalam kehidupan kelompok, misalnya keterampilan bercocok tanam atau membuat  peralatan sederhana yang biasa digunakan. Cara- cara seperti itu digunakan pula oleh kepala suku atau kepala adat terhadap warganya atau oleh ketua tani terhadap para petani.
2. Pengaruh Tradisi di Masyarakat
Dalam masyarakat terdapat tradisi dan adat istiadat yang  mendorong penduduk untuk belajar,  berusaha, dan bekerjasama atas dasar nilai-nilai budaya dan moral yang dianut oleh masyarakat itu.  Seperti pesan orang tua kepada anak-cucunya: “Tuntutlah ilmu, carilah harta, jauhilah perilaku yang tidak baik . Tutur kata yang lain diantaranya: “Berpikirlah sejak kecil, belajar sejak kanak-kanak, untuk bekal di masa dewasa, teruslah berikhtiar dengan sabar dan tawakal, berhematlah, aturlah rejeki sehingga tatkala sedikit dapat mencukupi dan tatkala tidak banyak tapi bersisa.  Pesan lain adalah “Hidup harus banyak teman, untuk saling menolong dan saling menitipkan diri; budi dan akal diperoleh dari sesama insan 
Pesan yang terkandung didalam tutur kata tersebut mendorong penduduk untuk melakukan kegiatan belajar, berusaha, dan bekerjasama di dalam masyarakat. Pesan itu pun memberi makna bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian kehidupan manusia yang harus dilakukan oleh setiap warga masyarakat.
3. Pengaruh Agama
Kehadiran       agama         dalam         kehidupan       masyarakat         lebih         melandasi       lagi perkembangan  pendidikan  luar  sekolah.  Belajar  membaca  kitab  suci,  kaidah-kaidah agama,  tata    cara    sembahyang,  yang  pada  umumnya  dilakukan  di  tempat-tempat peribadatan, merupakan  kegiatan belajar mengajar yang mendasari situasi pendidikan luar sekolah. Dalam perkembangan  selanjutnya, agama memberikan motivasi kepada masyarakat bahwa belajar itu merupakan kewajiban  bagi setiap pemeluk agama, dan kegiatan belajar dilakukan di dalam dan terhadap lingkungan  kehidupannya. Sebagai ilustrasi, Agama Islam memberikan dorongan kuat agar pemeluknya senantiasa belajar. Belajar ialah kewajiban yang ditetapkan oleh Allah untuk dilakukan oleh setiap orang. Syarat utama yang perlu dimiliki oleh setiap individu untuk melakukan kegiatan belajar adalah kemampuan membaca. Oleh sebab itulah, wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, untuk disampaikan kepada manusia, adalah perintah untuk membaca. “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan  (Q.S. Al-¾Alaq, ayat 1).
Dalam makna yang lebih luas, perintah membaca ini mendorong agar manusia menelaah petunjuk Tuhan yang tercantum dalam Kitab Suci, sebagai pedoman hidup di
dunia  ini,    mengkaji    alam    dan    lingkungan    kehidupan    sebagai    ciptaan-Nya,    dan menggunakan petunjuk Tuhan itu dalam berinteraksi dengan lingkungan kehidupannya. Berdasarkan makna ini maka kemampuan membaca adalah prasyarat yang sangat penting dalam kegiatan belajar untuk memperoleh  ilmu pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Dengan demikian, kegiatan belajar memiliki motivasi  ibadah  yaitu untuk melakukan kewajiban yang telah ditentukan oleh Tuhan.
Kewajiban  umat  untuk  belajar  ini  dipertegas  oleh  Rasulullah  SAW  dalam hadistnya:    “Menuntut  ilmu  adalah  wajib  bagi  setiap  Muslim  pria  dan  wanita . “Tuntutlah ilmu sejak dalam buaian sampai masuk ke liang kubur . Secara singkat dapat dipahami bahwa belajar adalah kewajiban  yang harus dilakukan oleh setiap umat Islam selama hidupnya.
Menurut  agama,  belajar  adalah  kunci  utama  untuk  mencapai  kemajuan  dan kebahagiaan. Belajar, dalam pengertian ini adalah proses pencarian dan penguasaan ilmu untuk diterapkan dalam kehidupan.
Motivasi  agama  bagi  manusia,  untuk  mengembangkan  kemampuan  berpikir dalam  mengolah potensi alamini telah ditegaskan oleh Allah SWT: “Dan Dia (Allah) menundukkan  untukmu  segala  sesuatu  yang  ada  di  langit  dan  di  bumi  semuanya, (sebagai suatu rahmat) dari pada-Nya.  Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berpikir  (Q.S. Al- Jatsiyah, 14). Dan berbagai perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir  (Q.S. Al-Hasyr, 21)
Dalam mengembangkan kemampuan manusia di masa dating agama memberi motivasi untuk  mengantarkan mereka guna memasuki ruang dan waktu yang berbeda dengan yang dialami saat ini.  Untuk mengantarkan ke dalam kehidupan masa depan itu, peranan    pendidikan    ialah    untuk    membelajarkan    manusia    terhadap    kemungkinan- kemungkinan yang akan dihadapinya di masa yang akan datang. Rasulullah SAW telah memberi  petunjuk:  “Belajarkanlah  anak-anakmu  karena  mereka    adalah  makhluk, ciptaan Tuhan, yang akan memasuki jaman yang berbeda dengan keadaan jamanmu sekarang . Petunjuk ini menegaskan bahwa fungsi pendidikan adalah untuk membantu manusia    dalam    mengembangkan    kemampuan    fungsional    yang    diperlukan    dalam kehidupan masa depan.
Berdasarkan  beberaba  Hadits  tersebut  pendidikan  hendaknya  dilandasi  oleh kaidah-kaidah agama sehingga terjadi motivasi belajar yang bertujuan untuk memperoleh pahala dari Tuhan Yang maha Pemurah dan Maha Penyayang dengan cara menunaikan kewajiban menuntut ilmu dan untuk  meningkatkan taraf hidup dan kehidupan di dunia dan mencapai kebahagiaan dalam kehidupan abadi di akhirat.

http://www.imadiklus.com/2011/06/asal-usul-pendidikan-luar-sekolah.html

Minggu, 29 April 2012

Mendiknas: Kurangi Pengangguran dengan Pendidikan Luar Sekolah

Rabu, 30 April 2008 13:09:06 - oleh : admin
Pendidikan Luar Sekolah (PLS) ternyata telah memberi kontribusi dalam upaya menangani masalah pengangguran terutama bagi warga masyarakat yang tidak mungkin terlayani kebutuhan pendidikannya melalui jalur pendidikan formal. Demikian Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Bambang Sudibyo pada acara penyerahan sertifikat profesi SPA Terapis di Jakarta, Rabu (20/12).
"Saya menghargai berbagai inisiatif yang dilakukan di lingkungan pendidikan luar sekolah, khususnya dalam mengembangkan kursus para profesi yang berorientasi kecakapan hidup untuk membelajarkan masyarakat agar memiliki kemampuan/keterampilan sebagai bekal untuk berusaha atau memasuki dunia kerja baik di dalam maupun luar negeri," ujar Bambang.
Menurutnya, perluasan dan peningkatan mutu pendidikan kecakapan hidup penting karena terkait dengan hajat hidup orang banyak sehingga Depdiknas bersama instansi terkait lainnya seperti Depnaker membentuk lembaga yang memberikan sertifikasi kompetensi.
Depdiknas, jelas Bambang, melalui Direktorat Pendidikan Luar Sekolah (PLS) juga menerbitkan sertikat kursus bagi Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT), sertifikat kecakapan hidup lainnya seperti bahasa Inggris, bidang otomotif, informasi teknologi dan sebagainya. Selain itu, Depdiknas secara bertahap akan melakukan akreditasi terhadap lembaga-lembaga kursus agar hasil dari pendidikan non-formal tersebut dapat diukur.

Untuk itu, katanya, pihaknya meminta agar Pendidikan Luar Sekolah terus mendorong dan memberikan fasilitasi kepada satuan-satuan pendidikan non formal agar terus mengembangkan berbagai program inovatif yang berorientasi pada kebutuhan pasar, sekaligus melakukan kemitraan dengan berbagai stake holder pendidikan guna meningkatkan mutu dan komptensi lulusannya agar memiliki sertifikasi profesi.
Ia mengatakan, upaya ke depan harus tetap dikembangkan agar semakin baik sehingga di era kompetisi global, tenaga kerja Indonesia mempunyai kemampuan untuk bersaing dengan tenaga kerja dari berbagai negara di dunia.
Telah banyak bukti yang dicapai, salah satu bukti tersebut adalah dilakukannya upaya sistematis dan sinergis oleh pemerintah, swasta dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas lulusan pendidikan khususnya di bidang "Spa Terapist."
"Para terapist ini telah mengikuti uji komptensi serta telah dinyatakan lulus untuk mendapat sertifikasi profesi. Selain itu, mereka telah diterima kerja atau magang di luar negeri untuk meningkatkan kemampuan dan daya saingnya," imbuhnya. (dina)

Sumber :
http://p2pnfi-reg1.org/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=5

Selasa, 24 April 2012

Mataram Guru Besar STKIP Siliwangi Bandung Prof. Dr. H. Engking S. Hasan, M. Pd, menilai pendidikan luar sekolah atau pendidikan non formal masih dimarjinalkan oleh pemerintah daerah karena tidak sinkronnya program pemerintah pusat dengan daerah.
“Luar biasa indah dan runutnya program pemerintah pusat, tetapi manakala program luas sekolah ini masuk ke daerah, pengelolaannya kadang-kadang kurang sinkron,  katanya di sela-sela acara seminar akademik jurusan pendidikan luar sekolah STKIP Siliwangi Bandung, yang digelar di gedung Balai Pengembangan Pendidikan Formal dan Informal (BPPFI) Regional VII Mataram, di Mataram, Selasa.
Ia menilai pendidikan yang sangat ampuh di masyarakat adalah adalah Pendidikan nonformal dan informal (PNFI). Pendidikan luar sekolah tersebut merupakan pendidikan yang paling tua di dunia, sehingga dijadikan sebagai soko guru.
Fungsi dan peran PNFI sangat besar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di suatu wilayah melalui pendidikan luar sekolah yang diberikan kepada masyarakat.
Salah satu target yang ingin dicapai, menurut dia, adalah membuat masyarakat menjadi pintar yang akan bermuara pada pembangunan ekonomi dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
“Jika rakyat sudah pintar dan melek, segala macam pembangunan ekonomi akan terwujud. Kalau ekonomi rakyat sudah meningkat, tentu drajat kesehatan masyarakat yang tinggi akan tercapai. Tetapi kalau diawali dengan kebodohan dan mutu pendidikan yang rendah, ekonomi dan kesehatan masyarakat juga akan rendah,  ujarnya.

Engking menggambarkan bagaimana pendidikan luar sekolah di sejumlah negara seperti di Korea Selatan, Singapura dan Thailan yang cukup berkembang dan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi masyarakatnya. “Jambu bangkok, ayam bangkok dari Thailand semuanya hasil dari pendidikan luar sekolah. Jadi begitu pentingnya pendidikan luar sekolah di Thailand,  ujarnya.
Menurut dia, program pemerintah pusat terkait dengan pendidikan luar sekolah sudah cukup bagus seperti sanggar belajar bersama, pendidikan dan pelatihan. Namun, yang terpenting adalah bagaimana menyelaraskan program tersebut dengan program pemerintah daerah terutama setelah berlakunya otonomi daerah.
Dia mengharapkan adanya sebuah upaya meninjau kembali undang-undang tentang otonomi daerah, sehingga program pemerintah pusat dengan program pemerintah daerah dalam memanusiakan manusia melalui pendidikan luar sekolah bisa selaras.
“Yang terpenting adalah bagaimana impelementasi kerja sama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam otonomi daerah guna meningkatkan sumber daya manusia. Jadi harus betul-betul ada kesinambungan. Itulah makna sebenarnya dari otonomi daerah,  ujarnya.(ant)
Sumber http://sumbawabaratnews.com/?p=299